Assalamualaikum,
Salam pagi-siang-malam untuk para manusia yang menunggang masa serta menanggung letih demi terciptanya cita yang masing-masing diri kita dambakan. Menentukan Cita adalah berkat terbesar yang Allah berikan kepada hambanya.
Cita atau impian adalah kodrat manusia dalam menjalani kehidupan. Memiliki tujuan membuat manusia berpikir bagaimana menjemput citanya, memperhitungkan setiap kecil langkahnya, serta mempelajari dari kegagalan yang menjadi guru besar dalam hidup ini. Begitupun saya, Andi Tri Nugraha.
Kita sepakati bahwa Kesejahteraan rakyat adalah cita-cita bangsa. Menurut World Economic Forum, Indonesia menorehkan peringkat ke-45 pada 2018 atas Global Competitive Index (GCI) yang menjadi tolak ukur negara untuk menyediakan kemakmuran bagi negara tersebut. Oleh karena itu sebagai seorang warga negara Indonesia kita harus menegakkan pilar-pilar indeks GCI sebagai partisipasi dalam berkewarganegaraan.
Kesehatan dan Edukasi adalah pilar nomor empat dari dua belas yang menjadi tolak ukur GCI, saya percaya bahwa dengan kesehatan dan edukasi negara ini dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusianya sehingga cita-cita mulia untuk mencapai kesejahteraan rakyat tidaklah menjadi tabu lagi.
“Education is the most powerful weapon to change the world” Nelson Mandela. Pendidikan telah menjadi bibit penting dalam memulai pergerakan-pergerakan kebangsaan. Budi Utomo adalah bukti nyata bagaimana organisasi yang digagasi oleh para pelajar memulai tunas-tunas perjuangan akan mewujudkan keadaan ideal yang terjadi di masyarakat.
“Education is the most powerful weapon to change the world” Nelson Mandela. Pendidikan telah menjadi bibit penting dalam memulai pergerakan-pergerakan kebangsaan. Budi Utomo adalah bukti nyata bagaimana organisasi yang digagasi oleh para pelajar memulai tunas-tunas perjuangan akan mewujudkan keadaan ideal yang terjadi di masyarakat.
Bukti sejarah ini menjadi salah satu belikat penguat akan ketertarikan saya pada dunia pendidikan, pertanyaanya jalan mana yang akan saya pilih dalam mewujudkan kebermanfaatan sebesar-besarnya? Keluarga menjadi jawaban yang mendasari tekad saya untuk menjadi tenaga medis.
Hipertensi menjadi silent killer no.1 di dunia,Data WHO 2015 menunjukkan sekitar 1,13 miliar orang di dunia menderita hipertensi. Artinya, 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis menderita hipertensi, hanya 36,8% di antaranya yang minum obat. Di Indonesia, berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 25,8%, prevalensi tertinggi terjadi di Bangka Belitung (30,%) dan yang terendah di Papua (16,8%). Sementara itu, data Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) tahun 2016 menunjukkan peningkatan prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas sebesar 32,4%.
Orang Tua, orang tua adalah mereka yang mengasihi kita, membimbing kita untuk mempersiapkan diri pula ketika kita akan merenta seperti mereka.
Ayahanda Saya adalah salah satu penderita hipertensi.
Sudah lebih dari satu dekade rasanya beliau bergantung pada obat hipertensi.
Saya masih berada di fase bersyukur karena Ayah saya tidak mengalami komplikasi yang mengancam jiwanya hingga sekarang. Namun apakah cukup hanya keluarga saya yang merasa sehat padahal ancaman selalu datang dalam senyap? Tidak.
Saya menolak untuk berdiam pula melihat hal ini terjadi di negara yang menjadi tanah saya berpijak. Hipertensi adalah masalah nasional yang bahkan tidak dianggap masalah. Oleh karena itu saya ingin menjadi pelopor pergerakan kesehatan nasional melalui pendidikan yang saya tempuh sekarang sebagai seorang calon dokter.
Tentu dengan ilmu yang tepat, saya dapat memberikan penanganan serta pencegahan yang tepat sasaran demi sehatnya bangsa ini. Karena dengan bangsa yang sehat maka sumber daya manusia pula akan meningkatkan kompetensinya sehingga dapat bersaing secara Internasional.
Tentu dengan ilmu yang tepat, saya dapat memberikan penanganan serta pencegahan yang tepat sasaran demi sehatnya bangsa ini. Karena dengan bangsa yang sehat maka sumber daya manusia pula akan meningkatkan kompetensinya sehingga dapat bersaing secara Internasional.
Hipertensi adalah suatu penyakit yang menyandukan korbannya untuk sangat mudah mengalami gejala-gejala penyakit berat. Tak ayal kontrol dari Tekanan Darah adalah sesuatu yang menjadi senjata andalan dari para tenaga medis, (termasuk calonnya sekalipun dibaca mahasiswa). Saya telah cukup banyak melakukan pemeriksaan fisik berupa tensi yang menjadi bukti nyata bahwa bangsa kita perlu tenaga medis yang tidak hanya menyembuhkan. Lebih dari itu, bangsa ini butuh pencegahan dan modifikasi pola hidup yang jauh lebih baik dari yang masyarakat selama ini anggap benar.
Pasien yang pernah saya periksa bervariasi dari termuda berumur 24 tahun hingga seorang wanita tua berumur 98 menjadi bukti nyata atas hal-hal yang menyayat hati saya. Segala pengalaman yang telah saya lakukan menjadi adonan tekad untuk mengupayakan kesehatan masyarakat melalui prevensi, promosi, rehabilitasi, serta kurasi. Mimpi masa depan saya adalah menjadi dokter Spesialis Anak. Dalam 10 tahun kedepan saya punya mimpi agar tingkat hipertensi di Jawa Barat kelahiran saya minimum turun 30%. Saya bermimpi bahwa anak-anak sedari dini dapat memodifikasi pola hidup yang sehat karena bangsa ini dibangun dari pemuda.
Beasiswa Bazma Pertamina menjadi angin segar bagi saya yang sedang menjalani pendidikan kedokteran selama 1 tahun ke belakang. Selain dengan cita-cita yang dapat saya konkretkan secara nyata ketika sudah menjadi dokter. Ini menjadi bukti bakti pula bagi saya untuk kedua orang tua saya yang notabene telah berada di fasa purnawiranya sekalipun. Inilah butki bakti saya bagi keluarga saya. Indonesia.
Comments
Post a Comment